Sebelum anda membaca artikel yang berjudul Latur Di Saniangbaka Dan Nikah Di Riau, ada baiknya anda mengetahui latar belakang terjadinya hal tersebut. Di antara hari-hari penuh berkah pada bulan puasa, ada satu hari yang selalu ditunggu dan dicari oleh umat Islam di dunia, yaitu malam Lailatul Qadar. Pada malam ini, keberkahan Allah berlipat ganda hingga seribu kali lipat. Orang-orang pun berharap bisa mendapatkan momen sakral tersebut demi kelangsungan hidupnya agar jauh lebih baik ke depan.
Namun, dari sekian tradisi itu, ada satu yang unik, yaitu tradisi akikah massal atau Latur di Saniangbaka, Sumatera Barat dan tradisi nikah di Riau. Oleh karena itu sengaja artikel ini di tulis dengan judul Latur Di Saniangbaka Dan Nikah Di Riau. Karena merupakan rangkuman atas dua tradisi tersebut untuk dijadikan informasi bagi anda melalui sebuah tulisan pada blog ini. Aneh memang, tapi begitulah cara orang dalam mereguk keberkahan Lailatul Qadar dengan caranya sendiri-sendiri. Yang jelas, tradisi ini dilaksanakan bukan untuk menebalkan unsur mistis seperti lazimnya banyak tradisi, tapi semata-mata untuk mendapat keridhaan Allah.
Terminologi Latur merupakan akronim dari kata Lailatul Qadar yang bermakna malam seribu bulan. Ini merupakan tradisi akikah secara massal yang dilaksanakan pada 10 hari menjelang lebaran, yaitu saat-saat turunnya Lalilatul Qadar. Karena malam mulia ini biasanya datang pada hari-hari ganjil (21, 23, 25, 27 dan 29), maka orang-orang Saniangbaka pun biasanya melangsungkan tradisi Latur pada saat-saat ini. Tidak ada data yang jelas, mulai kapan tradisi Latur Di Saniangbaka Dan Nikah Di Riau ini berlaku. Yang jelas tradisi tersebut telah mendarah daging pada sebagian umat Islam di sana, sehingga setiap kali datang bulan Ramadhan, terutama 10 hari menjelang lebaran, orang-orang di sana ada saja yang melangsungkan akikah anaknya.
Dalam pelaksanaan tradisi Latur, ada hal yang unik yaitu menu nya hanya gulai cubadak atau nangka dan daging sapi. Bahan baku gulai ini disumbangkan oleh pihak-pihak yang mengakikahkan anaknya. Sedangkan nasi dan peralatan disumbangkan oleh warga sekitar. Nasi dan gulai cubadak tersebut diletakkan dalam suatu piring besar yang dimakan oleh 3 sampai 5 orang. Peserta yang mengikuti tradisi Latur ini biasanya cukup bayak, hingga mencapai ratusan orang. Sebab, seluruh masyarakat Saniangbaka yang memiliki anak kecil dan belum diakikah hampir turut ambil bagian dalam tradisi ini. Mereka percaya bahwa anak yang di akikah pada saat Lailatul Qadar berlangsung, akan mendapat keberkahan yang banyak.
Di Riau ada semacam tradisi menikah pada saat Lailatul Qadar tiba atau 10 hari menjelang lebaran. Menurut mereka, menikah pada malam Lailatul Qadar pasti akan mendapat keberkahan yang berlipat-lipat dari Allah. Tidak ada data yang jelas, sejak kapan tradisi semacam ini masuk ke Riau, yang jelas tradisi luar mulai masuk ke sana sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, saat budaya Melayu Kuno telah bercampur dengan tradisi Hindu dan Budha. Tradisi ini memang agak unik, sebab menentukan hari pernikahan berdasarkan momen-momen sakral dalam Islam.
Demikian informasi berbagai tradisi di daerah Indonesia menjelang lebaran atau tepatnya 10 hari terakhir bulan Ramadhan dari Hanya Sekedar Informasi tentang Latur Di Saniangbaka Dan Nikah Di Riau untuk anda ketahui. Semua tradisi ini dilakukan tidak lain untuk mendapatkan berkah dari Allah dan tidak lebih dari itu dan semua daerah di Indonesia pasti memiliki tradisi masing-masing.
